Farting!

silences could kill

[Flash 9 is required to listen to audio.]

Biru langit wajahmu
Biaskan selaut rindu
Yg karam ribuan waktu
Berkelana dalam sendu

Kau lelah dan terjaga
Berputar di jelaga
Terang tak kan datang
Tak sperti yg kau damba

Terbuai harap semu
tak jemukah kau menunggu?
cobalah tuk bersandar
tenangkan hati yg gusar

Secakrawala senja
Tlah menuntun resahmu
Mengurai semua asa
Mengurung sembilumu

Segunung air mata
Menggumpal di udara
Menggariskan awan
Dalam pilu kau bertahan

Mungkin terlalu rumit
Langkah yg kau jejak
Dan kau kan nikmati sakit
Slama kau enggan beranjak

Mungkin terlalu pelik
Risau yang kau rasa
Selangit pun melirik
Atau kau tak merasa

sandarkan gelisahmu
rebahkan rerusukmu
damaikan asamu
lepaskan sakitmu…

Hidup cuma mampir ngetwit, sama sedikit-sedikit nulis di tumblr Muhammad Farid

Dirimu

tersimpan rapi di bilik angkasa 
diantara gugusan gemintang 
di selasela lapuknya ingatan 
selintas ingin yang pernah singgah 
sepotong doa yang telah lama kulupakan 
yang tak cukup sabar kunantikan 
untuk mewujud, kala itu

Mejikuhibiniu, 2012

[Flash 9 is required to listen to audio.]

aku mengingatmu sebagai sebuah senja mewah sewarna teh lemon. aku mengingat keringatku yang simbah karena berlari-lari dari ujung lingkaran ke ujung lingkaran lain, berusaha menempelkan bintang-bintang binar hasta karyaku di langit yang cokelat muda. aku ingat ingin menyesap senja teh lemon itu dalam kenanganku beserta wangimu yang sigap mendiami penciuman. aku ingat kau terlambat datang dan aku begitu gusar. aku ingat bibirmu ingin mampir di kulitku, tetapi terhalang – dan tetap saja membuat jantungku kulit lembu terbentang yang dipukuli bertubi-tubi. ritmis. aku ingat untuk bertekad agar tidak jatuh. kemudian berjuta detik setelahnya, aku ingat puluhan teguk kopi yang kupesan demi ingatan tentangmu. jenis minuman yang selalu kaupesan di kedai kopi mana pun. aku tetap jatuh.

aku mengingatmu sebagai malam yang tidak pernah berniat beranjak menjadi pagi. aku ingat berjalan di pinggir rel kereta, aku denganmu dan seorang teman yang seharusnya tidak berada di sana. aku mendongak menatapi bintang dan kau menggodaku. pastilah aku seorang seniman, memandangi bintang sebegitu mesranya. itu malam sudah hampir pagi dan kita tak punya waktu lagi. kaki-kakiku ingin menjejak bumimu lagi.

aku juga ingat kita pulang dan masing-masing kembali sendiri.

ah, apa guna ingatan, mengenang romansa seperti itu. lalu berjelabak dengan sadar. kita mengerti risiko-risiko jatuh cinta. tapi kita adalah orang-orang nekat yang tidak takut terluka.

lagi-lagi, waktulah yang bermasalah. yang mencuri semua kala kita.

@jiaeffendie | kemang, 29 september 2011

Gelap Ilusi Pagi

Entah mahluk apa yang menjaga kedua kelopak mata ku hingga selarut ini masih saja nyaman menatapi remang cahaya ruang.

Mungkin sedang mencoba menangkap sesuatu? Bayangan yang sempat berlarian dan lenyap seketika dalam kelebat lamunan sore tadi.

Berusaha terpejam pun percuma. Bayang itu kembali muncul, lebih dekat, lebih nyata. Sesosok bayang indah dengan banyak kenangan manis mengelilinginya.

Oh dia rupanya.. Dia yang telah lama tinggal di dalam kotak kenangan. Terletak jauh di perpustakaan hati, berserakan tak terurus terkepung debu pekat ketidak pedulian.

Cukup! Dia telah jauh pergi dan menemukan gugusan awan baru, tempat dia untuk bahagia merajut mimpi-mimpinya. Jangan lagi kalian di dustai sosok tidak nyata itu..

Mari tertidur..

Kata-kata itu mengindahkan cinta. Saling cinta itu merupakan untaian kata-kata indah perona hati.

[Flash 9 is required to listen to audio.]


If that’s what you really want

I will stay this way

doesn’t mean we’re on the intersection of the word irony

but we do have different tastes and interests

If rainbow is colorful

in my eyes they’re just black and white

Because difference is godsend

(Source: kutangusang)

Mencintai di Dalam Nadi

Ada yang jatuh di hatiku. Sepertinya itu namamu.

Lalu dia pecah, remah huruf hurufnya merebak ke seluruh paru paru.

Meleleh merembes membasahi pori nodi.

Menjalar, melaju menuju kepala

Kemudian membelah diri berjuta-juta.

Masih. Masih membelah diri.

Tak bisa berhenti.

(Source: sadgenic)