Hidup cuma mampir ngetwit, sama sedikit-sedikit nulis di tumblr
Muhammad Farid
tersimpan rapi di bilik angkasa
diantara gugusan gemintang
di selasela lapuknya ingatan
selintas ingin yang pernah singgah
sepotong doa yang telah lama kulupakan
yang tak cukup sabar kunantikan
untuk mewujud, kala itu
Mejikuhibiniu, 2012
Entah mahluk apa yang menjaga kedua kelopak mata ku hingga selarut ini masih saja nyaman menatapi remang cahaya ruang.
Mungkin sedang mencoba menangkap sesuatu? Bayangan yang sempat berlarian dan lenyap seketika dalam kelebat lamunan sore tadi.
Berusaha terpejam pun percuma. Bayang itu kembali muncul, lebih dekat, lebih nyata. Sesosok bayang indah dengan banyak kenangan manis mengelilinginya.
Oh dia rupanya.. Dia yang telah lama tinggal di dalam kotak kenangan. Terletak jauh di perpustakaan hati, berserakan tak terurus terkepung debu pekat ketidak pedulian.
Cukup! Dia telah jauh pergi dan menemukan gugusan awan baru, tempat dia untuk bahagia merajut mimpi-mimpinya. Jangan lagi kalian di dustai sosok tidak nyata itu..
Mari tertidur..
Kata-kata itu mengindahkan cinta. Saling cinta itu merupakan untaian kata-kata indah perona hati.
Ada yang jatuh di hatiku. Sepertinya itu namamu.
Lalu dia pecah, remah huruf hurufnya merebak ke seluruh paru paru.
Meleleh merembes membasahi pori nodi.
Menjalar, melaju menuju kepala
Kemudian membelah diri berjuta-juta.
Masih. Masih membelah diri.
Tak bisa berhenti.
(Source: sadgenic)